DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP ASPEK KELAUTAN Share by IzHarry Agusjaya Moenzir (notes) Today at 12:17pm

DSC05893Salah satu dampak pemanasan global adalah kecenderungan naiknya permukaan laut secara perlahan-lahan. Begitu ujar DR. Agus Supangat, Kepala Bidang Pelayanan Teknis, Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Non-Hayati, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, DKP pada saat talkshow Sudut Bidik Iptek di QTV yang dipandu oleh IzHarry Agusjaya Moenzir. Bersama beliau, hadir juga DR. Fadli Syamsudin, MSc, Kepala Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana, BPPT.

Dalam pembahasan mengenai Dampak Pemanasan Global terhadap Aspek Kelautan itu, DR. Fadli menjelaskan, dampak lain terhadap kelautan akibat meningkatnya kandungan CO2 di atmosfer menimbulkan badai tropis di Samudera Pasifik (bulan Juni s/d November) dan Samudera Hindia (bulan Desember s/d Mei) yang semakin intens pada abad ke-21.

Hal tersebut terbukti dengan naiknya muka air laut yang membanjiri pesisir pantai selatan Indonesia akibat alun dari badai tropis di Afrika Selatan dan datang bersamaan dengan Gelombang Kelvin yang menjalar di sepanjang Khatulistiwa Samudera Hindia. Kombinasi faktor itu menimbulkan bencana ribuan rumah hancur diterjang gelombang setinggi 5-7 meter di sepanjang pesisir barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara termasuk kejadian yang jarang terjadi di Indonesia.

Menurut DR. Agus, perbedaan tinggi permukaan air, arus lintas dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia memungkinkan fenomena el-nino dan la-nina. Induksi akibat rotasi siklonik badai tropis masih berpengaruh pada 50 LS/LU, sementara wilayah selatan Indonesia yang dibatasi garis 11 LS berada di luar kisaran itu. Badai tropis sangat potensial di pantai selatan Samudera Hindia. Hal ini perlu diwaspadai oleh masyarakat di pesisir pantai selatan Timor, dan pantai selatan Sumatera, dan gelombang juga bisa masuk ke selatan Lombok, Komodo, pantai Selatan Jawa Timur, Cilacap, dan Bali. Karena kalau temperatur naik 1-5°C, maka muka laut akan naik sekitar 10-100 cm. Prediksi tahun 2050, seluas 160 km² luas wilayah kota Jakarta akan hilang.

Badai tropis mengirimkan energinya lewat angin yang berhembus kencang di sepanjang perairan yang dilewatinya. Respon laut akan menyalurkan energi tersebut dalam bentuk gelombang yang menjalar mengikuti kontur batimetri dan teredam di perairan pantai akibat efek kedangkalan. Dalam hal badai tropis, energi yang disalurkan sangat besar menyebabkan volume air yang didorong ke arah pantai meningkat dengan tajam (storm surge). Apabila datangnya badai tropis tersebut bersamaan dengan saat pasang tinggi (high tide), maka badai pasang surut akan melanda wilayah pantai dan sekitarnya. Badai pasang surut ini menyebabkan kenaikan muka laut rata-rata yang dapat merusak bangunan di sekitar pantai ataupun banjir akibat meluapnya sungai.

Untuk mitigasinya dari segi teknologi, BPPT melakukan : (1) Kerjasama dengan Jepang memasang Radar Atmosfer yang berfungsi menanggulangi bencana laut. Radar ini dipasang di Pontianak, Manado, Padang, dan Jakarta. BPPT juga konsent untuk meneliti laut dan sumberdaya yang terkandung di dalamnya dengan 4 unit kapal riset. (2) Membuat suatu Sistem Teknologi Buoy (tahun lalu) untuk Tsunami, tetapi mempunyai sensor untuk mengukur permukaan laut dan atmosfer (yang ditempatkan di ring Samudera Hindia dan di Selat Makassar). (3) Melakukan kerjasama dengan BRKP-DKP merintis roadmap pemanasan global 10 tahun ke depan (dimulai tahun 2008). Melalui kerjasama ini diharapkan akan dapat solusi penurunan emisi karbondioksida, yaitu bagaimana memanfaatkan laut sebagai solusi untuk bisa mengikat karbon, dan pilot project untuk membuat pohon buatan di darat dengan rekayasa teknologi untuk menyerap CO2 yang berfungsi seperti pohon. (misal : di sepanjang jalan tol).

Sementara BRKP mempunyai program yang berhubungan dengan (1) Aktivitas penduduk, yaitu memetakan daerah yang rentan bencana, (2) Pengukuran (merupakan program nasional, a.l. bekerja sama dengan LIPI, BPPT, BMG) yang memerlukan observasi secara terus menerus, dan (3) Penyusunan kebijakan dalam bentuk Ocean Policy, yaitu undang-undang yang berkaitan dengan pemanasan global. DKP juga melalukan roadshow sosialisasi ke daerah pesisir.

Saat ini BRKP mengadakan kerjasama internasional dibidang Aliran massa Air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia selanjutnya ke Indonesia, dan Perancis. Salah satu pengukuran yang dilakukan oleh BRKP sejak tahun 2003 sampai sekarang adalah pelelehan es yang berdampak sirkulasi akibat pemanasan global. Karena es yang meleleh akan mempengaruhi sirkulasi arus (seperti yang dibuat dalam film Holywood The Day After Tomorrow). Alat pengukur ini dipasang antara lain di selat Makassar dan Lombok.

Pada akhir perbincangan, DR. Fadli menyampaikan perlunya jaringan monitoring, dan DR. Agus menyampaikan pentingnya observasi untuk mendapatkan data, serta perlunya dana. Beliau menghimbau kepada generasi muda untuk terjun meneliti laut, karena negara kita mayoritas terdiri dari lautan.

Iklan

Optimism for Copenhagen talks emerges from Al Gore’s training

DSC05854Adianto P. Simamora ,  The Jakarta Post ,  Melbourne   |  Tue, 07/21/2009 2:26 PM  |  National

“Tonight is a time when I feel elevated to a different level of consciousness, awareness and knowledge,” declared Arif Hasyim, director for Asia Biogas, in his blog entry just hours after Al Gore’s climate training.

For Arif, the three-day climate training with Nobel Peace Prize winner and former US vice president Al Gore had spawned “strange” feelings on the issue of climate change.

“I wish this *conference* would never end; but on the other hand, I can’t wait to go and start working,” he said, referring to his “voluntary targets” to spread Gore’s message to at least 10 community groups in Indonesia this year.

Arief is one of 50 Indonesians who received the chance to join the training session of The Climate Project (TCP) in Australia.

Gore, presenting the “lively” slideshow he used during the Academy Award-winning documentary, An Inconvenient Truth, has built optimism among participants of a better climate future with more people now aware of climate issues.

Gore set up TCP, an international non-profit organization, with the idea of raising public awareness of the climate crisis at the grassroots level worldwide.

To date, TPC presenters have reached a combined audience of more than 5 million people across the planet.

Another Indonesia delegate, 64-year-old Abdul Razak Manan, a commissioner at state-owned seaport operator PT Pelindo I, was also trained to communicate directly with his community in order to generate momentum for the best possible outcome at the Copenhagen climate change UN talks in December.

“I hope my role at the training will mean I can work to inspire and create change in order to avoid catastrophic climate change here in Indonesia,” he said.

“I plan to be an advocate for this work in the important five-month lead-up to the Copenhagen climate change negotiations.”

He added he would share his newfound knowledge with Pelindo employees across the country.

The executive director of the Australian Conservation Foundation, Don Henry, who organized TCP in Australia, said the participants would be agents of change on the climate crisis.

“These people are united in wanting to find a solution to the worst of dangerous climate change,” he said.

“They can now return to their communities and act as agents of change, asking their leaders to be part of the solution to the climate crisis.

“Countries in the Asia-Pacific region are going to be crucial in a good outcome to Copenhagen. All countries need to lead this issue – just as we need to do the right thing at home.”

The Copenhagen talks are expected to result in a new agreement on reducing carbon emissions to avoid global average temperatures rising by more than 2 degrees Celsius.

The new climate regime will replace the existing Kyoto Protocol, which will expire in 2012, and require developed countries to cut greenhouse gas emissions by 5 percent from 1990 levels.

Such nations, including the United States, have repeatedly asked emerging economies such as China, India and Brazil to also be tied to legally binding emissions reduction targets.

China and India, however, have rejected the proposal, leaving climate negotiations in limbo.

The recent G-8 leaders’ summit in Italy also showed how difficult it would be to persuade the world to make lifestyle and economic sacrifices needed to save the planet from global warming.

The summit failed to make any major headway on firm commitments to reduce carbon emissions.

The Copenhagen talks are also expected to agree on the Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) concept as an alternative mechanism to reducing emissions from forests.

The head of the Indonesian delegation to TCP in Australia, Yani Saloh, said preventing deforestation was a low-cost way of reducing emissions.

“As the third-most forested tropical country, I hope Indonesia will take this opportunity to show leadership and become a world leader in shaping – and benefiting from – the REDD,” she said.

Perubahan Iklim Bakal Berdampak terhadap Operasional di Pelabuhan

Medan, (Analisa)

DSC05853

PT Pelabuhan Indonesia khususnya (Pelindo) I selaku penyedia infrastruktur di pelabuhan harus menyadari bahwa perubahan iklim bakal berdampak terhadap keberlangsungan operasional di pelabuhan dan dermaga.

“Perubahan iklim merupakan tanggungjawab semua pihak. Termasuk Pelindo I selaku penyedia infrastruktur kepelabuhan. Mengapa demikian, dengan perubahan iklim, permukaan laut setiap tahunnya naik sekira setengah sentimeter. Bahkan, di tempat tertentu dikarenakan banyaknya bencana lingkungan yang terjadi naik hingga 1 sentimeter,” demikian ujar Komisaris Pelindo I Abdul Razak Manan kepada Analisa, Rabu (15/7) yang menjadi salah satu peserta dari 52 delegasi Indonesia yang ikut Pelatihan Perubahan Iklim pada Pertemuan Asia Pacifik Summit di Melbourne, Australia yang digelar Australian Conservation Foundation (ACF) bekerjasama dengan Algore Climate Change, 11 hingga 13 Juli lalu.

Dikatakan Manan, jika Pelindo I tidak menyadari hal ini dari sekarang maka mereka akan terkejut nantinya. Begitu perubahan iklim tersebut memberi dampak terhadap operasional di dermaga dan pelabuhan.
Disebutkan Manan, hasil pelatihan dari pertemuan yang membahas kondisi iklim dunia termasuk Indonesia saat ini yang sudah memasuki fase ‘darurat’, Manan mengaku akan mensosialisasikan dampak perubahan iklim ke seluruh Pelindo yang ada di Indonesia.

Hal ini dilakukan agar Pelindo I peduli dengan dampak perubahan iklim. Selain itu, sebagai salah satu peserta dalam pertemuan yang diikuti 300-an lebih delegasi dari seluruh dunia itu, para peserta berkewajiban mensosialisasikan tentang perubahan iklim beserta dampaknya. “Apalagi Pelindo sudah menargetkan ingin meraih ISO 140001,” cetus Manan yang juga dosen Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Masih Manan, pada pelatihan yang diikutinya itu, dirinya mendapat lebih banyak pengalaman tentang kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi di belahan bumi di dunia.  “Jadi planet bumi ini adalah milik kita, semua negara yang mengikuti pelatihan itupun sudah sepakat untuk mengantisipasi secara bersama dampak perubahan iklim sekarang ini,” tandasnya.(mc)