Perubahan Iklim Bakal Berdampak terhadap Operasional di Pelabuhan

Medan, (Analisa)

DSC05853

PT Pelabuhan Indonesia khususnya (Pelindo) I selaku penyedia infrastruktur di pelabuhan harus menyadari bahwa perubahan iklim bakal berdampak terhadap keberlangsungan operasional di pelabuhan dan dermaga.

“Perubahan iklim merupakan tanggungjawab semua pihak. Termasuk Pelindo I selaku penyedia infrastruktur kepelabuhan. Mengapa demikian, dengan perubahan iklim, permukaan laut setiap tahunnya naik sekira setengah sentimeter. Bahkan, di tempat tertentu dikarenakan banyaknya bencana lingkungan yang terjadi naik hingga 1 sentimeter,” demikian ujar Komisaris Pelindo I Abdul Razak Manan kepada Analisa, Rabu (15/7) yang menjadi salah satu peserta dari 52 delegasi Indonesia yang ikut Pelatihan Perubahan Iklim pada Pertemuan Asia Pacifik Summit di Melbourne, Australia yang digelar Australian Conservation Foundation (ACF) bekerjasama dengan Algore Climate Change, 11 hingga 13 Juli lalu.

Dikatakan Manan, jika Pelindo I tidak menyadari hal ini dari sekarang maka mereka akan terkejut nantinya. Begitu perubahan iklim tersebut memberi dampak terhadap operasional di dermaga dan pelabuhan.
Disebutkan Manan, hasil pelatihan dari pertemuan yang membahas kondisi iklim dunia termasuk Indonesia saat ini yang sudah memasuki fase ‘darurat’, Manan mengaku akan mensosialisasikan dampak perubahan iklim ke seluruh Pelindo yang ada di Indonesia.

Hal ini dilakukan agar Pelindo I peduli dengan dampak perubahan iklim. Selain itu, sebagai salah satu peserta dalam pertemuan yang diikuti 300-an lebih delegasi dari seluruh dunia itu, para peserta berkewajiban mensosialisasikan tentang perubahan iklim beserta dampaknya. “Apalagi Pelindo sudah menargetkan ingin meraih ISO 140001,” cetus Manan yang juga dosen Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Masih Manan, pada pelatihan yang diikutinya itu, dirinya mendapat lebih banyak pengalaman tentang kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi di belahan bumi di dunia.  “Jadi planet bumi ini adalah milik kita, semua negara yang mengikuti pelatihan itupun sudah sepakat untuk mengantisipasi secara bersama dampak perubahan iklim sekarang ini,” tandasnya.(mc)

Iklan

.

Harapan Belawan menjadi pelabuhan ramah lingkungan

oleh : Hambali Batubara

Sabtu, 18/10/2008 10:09 WIB

Operasional pelabuhan akan membawa dampak terhadap lingkungan laut khususnya dampak terhadap perubahan komponen fisik, kimia, biologi, sosial ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Tak dipungkiri, aktivitas di pelabuhan memberikan dampak kepada pemanfaatan sumber daya alam berupa ruang lahan, perairan, dan udara yang akan tercemar oleh polusi air buangan dan polusi udara hasil dari bahan bakar laut, serta aktivitas lainnya yang berada di pelabuhan.

Indonesia dengan kondisi lingkungan laut yang unik diatur khusus agar jangan menyimpang dari ketentuan internasional, seperti Oipol 1954 dan konvensi internasional pencegahan polusi dari kapal (Marpol 1973/1978).

Selain itu terdapat sejumlah kebijakan lingkungan perairan pelabuhan sebagai dasar hukum secara nasional dan international, seperti Konvensi Hukum Laut 1982 (Unclos III), UU No. 17/1985 tentang Pengesahan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982, UU No. 21/ 1992 tentang Pelayaran, UU No. 6 /1996 tentang Perairan, UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Terkait dengan hal itu, Komisaris Pelindo I Abdul Razak Manan mengatakan Pelabuhan Belawan sudah selayaknya memasuki wilayah pelabuhan yang ramah lingkungan bersertifikat ISO 14001. Hal ini untuk mendukung kebijakan dunia internasional yang mulai menggalakkan pelabuhan ramah lingkungan dan bersertifikat ISO 14001. Baca lebih lanjut